Satu Sore, Banyak Cerita

Satu Sore, Banyak Cerita

⛧°. ⋆༺♱༻⋆. °⛧


Apakah kalian pernah merasa gugup dan takut saat melaksanakan sebuah pelayanan kepada Tuhan?

⛧°. ⋆༺♱༻⋆. °⛧

see:


    Pada tanggal 21 September 2025 tepatnya pada hari selasa sore hari, aku dan Chelsea mengikuti doa lingkungan di salah satu rumah anggota lingkungan kami, yaitu lingkungan Santo Ignatius Loyola. Doa lingkungan ini bertemakan BKSN minggu ke 3. Doa ini memberi pelajaran tentang pentingnya keluarga dalam ehidupan kita. Di sana, kami berdua melihat banyak orang yang berdatangan untuk ikut doa lingkungan ini. Jumlah anggota lingkungan yang datang kurang lebih ada 30 orang. Suasana terasa hangat dan akrab sejak awal, seolah kami langsung disambut oleh keluarga besar yang sudah lama saling mengenal.

    Sebelum doa mulai, kami semua saling berbagi kabar, bercerita, dan bercanda tawa. Aku bisa melihat banyak senyuman yang membawakan kehangatan serta persaudaraan dalam kegiatan ini. Pada awalnya aku dan Chelsea masih canggung karena kami masih malu-malu untuk ikut berbincang dengan orang lain. Kami sempat hanya duduk berdua, saling menunggu siapa yang akan mulai mengajak bicara duluan, tapi pada akhirnya kami mulai berani untuk berbicara dan ikut merasakan adanya keakraban yang mulai muncul pada diri kami dengan orang lain. Dalam doa lingkungan ini, aku dan Chelsea bertugas untuk membacakan ayat alkitab yang di akhir kegiatan akan direfleksikan bersama-sama. Sebelum dan sesudah doa, kami menyanyikan lagu keluarga cemara dan Jangan Pernah Menyerah. Selesai berdoa, kami semua saling berbagi cerita dan makan makanan camilan bersama. Camilan yang diberikan tuan rumah sangat enak dan lezat. Kegiatan doa lingkungan diakhiri dengan adanya foto bersama. Selesai berfoto kami pamit untuk pulang dan beristirahat. Kami berdua sangat senang bisa mengikuti doa lngkungan ini.

Judge:

    Dalam pengalaman mengikuti doa lingkungan BKSN pada 21 September 2025, aku mulai menyadari bagaimana kegiatan sederhana ini ternyata mengajarkanku nilai-nilai Spiritualitas Maria. Dengan kegiatan bersama Chelsea membacakan ayat Kitab Suci di depan banyak orang aku belajar tentang kerendah hati. Aku menyadari bahwa pelayanan bukan soal tampil di depan atau menerima pujian, tetapi tentang melayani dengan tulus. Justru ketika aku tidak mengharapkan apresiasi apa pun, ada perasaan damai dan hangat yang muncul, seperti aku belajar menempatkan Tuhan di atas segalanya. Selain itu, pengalaman ini juga menumbuhkan nilai kesetiaan. Dengan ikut terlibat dalam kegiatan lingkungan, aku merasa semakin dekat dengan Gereja, lingkungan, dan imanku sendiri. Ada dorongan dalam hati yang membuatku yakin bahwa ini adalah bagian kecil dari panggilanku sebagai murid Kristus untuk hadir, menjadi bagian, dan ikut membangun komunitas.

    Melalui seluruh rangkaian doa, kebersamaan, tawa, dan perjumpaan dengan orang-orang lingkungan, aku juga belajar tentang melakukan kehendak Allah. Pelayanan ini membuatku melihat bahwa bentuk kasih kepada Tuhan dan sesama tidak selalu besar; kadang justru hadir dalam hal-hal kecil yang dilakukan dengan cinta. Dalam kehangatan senyuman orang-orang, dalam permainan puzzle yang mempererat hubungan, hingga dalam keberanian kecilku untuk menghilangkan rasa canggung, aku bisa merasakan bagaimana “tangan Tuhan” bekerja. Ia menuntun, menguatkan, dan menunjukkan bahwa pelayanan sederhana pun dapat menjadi jalan untuk mengalami kasih-Nya. “Humble yourselves, therefore, under God’s mighty hand, that he may lift you up in due time.” 1 Peter 5:6Ayat Alkitab ini tentang melayani dalam kelompok doa lingkungan telah membuat Tuhan mengajarkanku bagaimana melayani dengan rendah hati tanpa mengharapkan pujian. 

Act:

    Dari hasil refleksi ini, aku akan mulai berkomitmen untuk menjadi lebih rendah hati, lebih tekun, dan lebih terbuka dalam setiap kesempatan melakukan pelayanan. Aku akan mulai mengubah diriku untuk tidak memilih-milih teman, suka berbagi kepada teman, mulai menghilangkan prilaku yang kurang baik seperti sombong dan lainnya. Pengalaman merasakan doa lingkungan membuat ini membuatku semakin menyadari pelayanan yang kecil pun akan sangat berarti untuk diriku dan sesama. Untuk itu, aku ingin lebih menghidupi pelayanan dalam keseharian.

    Rencananya aku akan lebih aktif di koor gereja. Koor yang aku laksanakan biasanya diberasal dari koor sekolah dan koor lingkunganku. Walaupun aku mengakui bahwa kadang aku merasa malas atau kelelahan, sehingga memilih tidak ikut latihan koor. Tapi justru dari kelemahan itu aku belajar untuk disiplin Selain mengikuti koor, aku akan berusaha aktif di kegiatan Orang Muda Katolik (OMK). Dalam OMK banyak kegiatan pelayanan seperti koor, tugas tatib, dan lainnya. Terakhir aku akan lebih tekun dalam kegiatan lingkungan seperti doa lingkungan.

    Dengan sejumlah kecil hal-hal ini, aku ingin bertumbuh dalam pelayanan dan lebih menginvestasikan diri untuk Tuhan dan sesama dengan tulus. Selain itu, aku ingin pelayanan kecilku bisa membawa sukacita kepada orang lain. Mungkin tidak besar, tetapi aku berharap kehadiranku bisa membuat gereja lebih hidup dan berkembang imannya, bagi banyak anak-anak muda yang diharapkan. Aku berharap Tuhan membimbingku untuk bisa bertumbuh dalam iman. Aku tau tidak ada yang sempurna, tetapi aku ingin belajar bertumbuh dan yang ingin kukatakan adalah, dengan pelayanan yang sederhana yang kulakukan, aku lebih bisa mengabdikan diri kepada Tuhan dan sesama dengan tulus, dan aku lebih mencerminkan kasih Kristus dalam hidupku sehari-hari.

    Itulah sedikit pengalaman dan refleksi yang aku dapat dari mengikuti doa lingkungan ini. Ternyata, hal sederhana pun bisa memberi banyak makna jika dijalani dengan hati. Bagaimana dengan kamu? Pernahkah kamu mempunyai pengalaman serupa dalam pelayanan atau kegiatan komunitas? Ceritakan di kolom komentar ya!


Komentar