Merawat Kangkung, Merawat Bumi: Sebuah Refleksi Iman Katolik
1. Pendahuluan
Saya memilih menanam kangkung karena tanaman ini mudah ditemukan dan sering dimakan oleh keluarga saya. Selain itu, kangkung juga dikenal sebagai tanaman yang cepat tumbuh dan tidak sulit dirawat. Hal ini membuat saya tertarik untuk mencobanya sendiri di rumah. Saya ingin membuktikan bahwa saya juga bisa menanam sayur dengan tangan saya sendiri.
Harapan awal saya dalam proyek ini adalah bisa memanen dan memakan sayur hasil usaha sendiri. Saya membayangkan betapa senangnya melihat tanaman tumbuh dari biji kecil hingga bisa dimasak dan dimakan bersama keluarga.
Proyek menanam kangkung ini juga saya lakukan sebagai bagian dari pembelajaran iman. Melalui kegiatan ini, saya belajar untuk lebih menghargai ciptaan Tuhan, bahkan dari hal yang paling kecil seperti benih tanaman. Saya menyadari bahwa semua yang tumbuh berasal dari kebaikan Tuhan.
2. Proses Menanam Kangkung
Hari Pertama: Menanam Benih
Pada hari pertama, saya menyiapkan pot, tanah, dan benih kangkung. Tanah yang saya gunakan adalah campuran tanah kebun dan sedikit pupuk agar lebih subur. Benih kangkung berukuran kecil dan berwarna gelap. Saat memegang benih tersebut, saya merasa sedikit ragu karena ukurannya sangat kecil.
Saya mulai menanam benih dengan menaburkannya di atas tanah, lalu menutupnya tipis-tipis dan menyiramnya dengan air secukupnya. Saat itu saya merasa berharap sekaligus penasaran, apakah benih kecil ini benar-benar bisa tumbuh.
Refleksi:
Benih ini terlihat kecil dan lemah, tetapi saya percaya di dalamnya ada kehidupan yang Tuhan berikan.
Saya mulai menanam benih dengan menaburkannya di atas tanah, lalu menutupnya tipis-tipis dan menyiramnya dengan air secukupnya. Saat itu saya merasa berharap sekaligus penasaran, apakah benih kecil ini benar-benar bisa tumbuh.
Refleksi:
Benih ini terlihat kecil dan lemah, tetapi saya percaya di dalamnya ada kehidupan yang Tuhan berikan.
Komentar
Posting Komentar